Di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, harga Bitcoin mengalami kenaikan signifikan setelah gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Kenaikan ini dipicu oleh pembelian Bitcoin senilai $100 juta oleh perusahaan Strategy, yang membuat harga Bitcoin melonjak ke tingkat tertinggi dalam dua minggu terakhir, yaitu sekitar $67.000.
Namun, analis seperti Nicolai Sondergaard dari Nansen Research memperingatkan tentang potensi bahaya di balik kenaikan ini. "Kenaikan harga Bitcoin yang terjadi setelah gencatan senjata Iran harus dilihat dengan hati-hati, karena trader yang telah terbakar dua kali sebelumnya dalam tahun ini masih belum sepenuhnya mempercayai kenaikan ini," katanya.
Strategi Investasi dan Saham Kripto
Strategy, perusahaan yang melakukan pembelian Bitcoin senilai $100 juta, melihat kenaikan signifikan dalam harga sahamnya, yaitu sekitar 9%. Perusahaan lain seperti Strive, Coinbase, Robinhood, dan Circle juga mengalami kenaikan signifikan dalam harga sahamnya. Austin Federa, co-founder DoubleZero, mengatakan bahwa institusi keuangan sangat tertarik dengan kripto dan telah melihat eksitasi yang besar dari banker dan investor.
Namun, analis dari Bitfinex memperingatkan bahwa kenaikan harga Bitcoin yang terjadi saat ini mungkin tidak berkelanjutan. "Kenaikan harga Bitcoin yang terjadi saat ini mungkin hanya merupakan efek sementara dari gencatan senjata Iran dan pembelian Bitcoin oleh Strategy, dan bukan merupakan tanda dari permintaan yang sebenarnya," kata mereka.
Oleh karena itu, penting untuk memantau perkembangan harga Bitcoin dan saham kripto dengan hati-hati, serta mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga, seperti keputusan Federal Reserve dan perkembangan geopolitik.




