Seiring deadline Agustus semakin dekat, Ketua Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) Michael Selig berusaha mendesak Kongres untuk mengesahkan Undang-Undang Keterbukaan (Clarity Act) yang ditujukan untuk memberikan kejelasan mengenai struktur pasar kripto di Amerika Serikat. Menurut Selig, undang-undang ini "sangat dekat" dengan kesepakatan, meskipun masih ada perselisihan mengenai etika dan ketentuan stablecoin.
Undang-Undang Keterbukaan ini bertujuan untuk membagi pengawasan aset digital antara CFTC dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), yang telah menjadi keinginan industri selama beberapa tahun. Selig menekankan bahwa undang-undang ini sangat penting untuk meningkatkan daya saing nasional dan memberikan kepastian, kejelasan, dan perlindungan konsumen. Ia juga menegaskan bahwa undang-undang ini merupakan upaya bipartisan yang harus segera disahkan.
Tantangan dan Prospek
Namun, proses pengesahan undang-undang ini masih menghadapi beberapa tantangan, termasuk perselisihan mengenai ketentuan etika dan stablecoin. Selig menyatakan bahwa beberapa perselisihan ini hanya mengalihkan perhatian dari tujuan utama undang-undang ini, yaitu memberikan kejelasan dan kepastian bagi industri kripto. Ia juga menegaskan bahwa CFTC telah mengusulkan aturan untuk sektor prediksi pasar dan telah mengajukan gugatan terhadap beberapa negara bagian dalam perjuangan mengenai yurisdiksi.
Senator Cynthia Lummis, yang memimpin subkomite aset digital Komite Perbankan Senat, telah menyatakan bahwa negosiator berusaha untuk merilis teks undang-undang dan mengadakan suara bulan ini. Komite telah memajukan undang-undang ini dengan suara 15-9, dengan dua Demokrat bergabung dengan Republik. Jika undang-undang ini tidak disahkan sebelum recess Agustus, maka proses pengesahan mungkin akan tertunda selama beberapa tahun.




