Di tengah badai ekonomi global, harga bitcoin telah mengalami penurunan yang signifikan, jatuh ke bawah $60.000. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk outflow ETF, sinyal hawkish dari Fed, ketakutan inflasi, dan kehilangan kepercayaan pasar. Pada saat penulisan, harga bitcoin berada di $59.566, turun lebih dari 10% dalam 24 jam dan sekitar 53% dari all-time high $126.277 yang dicapai bulan Oktober lalu.
Penurunan ini tidak disebabkan oleh satu peristiwa saja, melainkan konvergensi berita buruk yang datang bersamaan. ETF spot bitcoin AS mencatat outflow sebesar $113,8 juta pada 23 Juni, menandai hari keempat berturut-turut penarikan dana. BlackRock's IBIT memimpin outflow dengan sekitar $182 juta, sementara Fidelity's FBTC dan ARK 21Shares' ARKB mencatat sekitar $23 juta dan $31 juta, respectively.
Analisis Pasar
Fed telah memperburuk situasi dengan mengumumkan kemungkinan kenaikan suku bunga, yang berdampak pada pasar aset berisiko. Sementara itu, perusahaan seperti Strategy telah menjual sebagian bitcoin mereka, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Namun, beberapa analis, seperti Geoffrey Kendrick dari Standard Chartered, masih optimis tentang prospek bitcoin di masa depan. Kendrick memprediksi bahwa harga bitcoin akan mencapai $100.000 pada akhir tahun, yang merupakan kenaikan sekitar 70% dari level saat ini.
Beberapa sinyal telah muncul yang menunjukkan bahwa pasar bitcoin mungkin telah mencapai titik terendah. Pada 23 Juni, ETF spot bitcoin mencatat inflow sebesar $39,2 juta, yang merupakan hari pertama inflow setelah beberapa hari outflow. Selain itu, beberapa perusahaan, seperti Strive Asset Management, telah membeli bitcoin dalam jumlah besar, yang menunjukkan bahwa masih ada minat investor terhadap aset digital ini.




