Di tengah-tengah kelesuan pasar kripto, ahli makroekonomi Lyn Alden melihat potensi pemicu bullish baru untuk Bitcoin. Menurutnya, jika saham artificial intelligence (AI) menjadi terlalu besar dan tidak realistis, maka investor mungkin akan mencari alternatif lain, termasuk Bitcoin. Hal ini dapat terjadi karena ketika suatu aset mencapai harga yang tidak masuk akal, maka modal seringkali bergeser ke peluang lain yang memiliki potensi upside lebih besar.
Saham AI seperti Nvidia (NVDA) telah mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, dengan kenaikan 35,48% dalam 12 bulan terakhir. Namun, beberapa analis keuangan mempertanyakan apakah momentum ini dapat dipertahankan di tahun 2026. Jika saham AI mulai menurun, maka Bitcoin dapat menjadi salah satu penerima manfaat dari rotasi modal ini. Menurut Alden, Bitcoin hanya membutuhkan "sedikit permintaan baru" untuk melompat lebih tinggi, karena pemegang jangka panjang telah "membuat lantai" sebagai trader jangka pendek bergeser keluar.
Peran Pemegang Jangka Panjang
Pemegang Bitcoin jangka panjang memiliki peran penting dalam menentukan harga Bitcoin. Mereka tidak akan melepaskan aset mereka kecuali jika harga naik secara signifikan, sehingga membuat lantai harga yang kuat. Alden juga menekankan bahwa Bitcoin jarang membuat bentuk V-shape bottoms, kecuali dalam acara stimulus COVID-19. Oleh karena itu, dia tidak mengharapkan lonjakan harga yang cepat dalam jangka pendek. "Bitcoin biasanya mencapai level rendah, lalu bergerak secara horizontal untuk beberapa waktu," katanya.
Dalam konteks ini, Alden melihat bahwa Bitcoin saat ini berada dalam tahap "grinding" dan mungkin akan bergerak $10.000 lebih rendah atau $20.000 lebih rendah sebelum memulai kenaikan baru. Namun, dengan potensi pemicu bullish dari saham AI yang membengkak besar, maka Bitcoin dapat menjadi salah satu pilihan yang menarik bagi investor yang mencari alternatif lain.









