Di tengah persaingan sengit dalam industri pertambangan cryptocurrency, perusahaan rintisan Starcloud telah mengumumkan rencana ambisius untuk memulai pertambangan Bitcoin di luar angkasa. Dengan menggunakan perangkat keras ASIC (Application-Specific Integrated Circuit), Starcloud berencana untuk memanfaatkan keunggulan ekonomis komputasi luar angkasa untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Menurut CEO Starcloud, Philip Johnston, pertambangan Bitcoin di luar angkasa akan menjadi "industri besar" di masa depan karena biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertambangan di Bumi. "Pertambangan Bitcoin mengonsumsi sekitar 20 GW daya secara terus-menerus. Tidak masuk akal untuk melakukan ini di Bumi, dan pada akhirnya, semua ini akan dilakukan di luar angkasa," kata Johnston.
Tren Masa Depan: Komputasi Luar Angkasa
Starcloud, yang didukung oleh Nvidia, telah meluncurkan satelit dengan GPU H100 ke orbit pada November lalu, menandai pertama kalinya perangkat sekuat itu beroperasi di luar angkasa. Dengan menggunakan energi surya sebagai sumber daya utama, data center Starcloud yang terdiri dari sekitar 88.000 satelit, berpotensi menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat untuk kecerdasan buatan.
Meskipun pertambangan Bitcoin di luar angkasa masih dalam tahap awal, Johnston yakin bahwa ini akan menjadi salah satu use case paling menarik untuk komputasi luar angkasa. "ASICs sekitar 30 kali lebih murah per kilowatt atau per watt dibandingkan dengan GPUs," kata Johnston. "Chip B200 1-kilowatt mungkin berharga $30.000, sedangkan ASIC 1-kilowatt hanya sekitar $1.000."









