Di pasar keuangan yang kompleks, kinerja Bitcoin dalam enam bulan terakhir menimbulkan banyak pertanyaan. Kripto terbesar di dunia ini mengalami penurunan tajam, sementara saham dan emas mengalami kenaikan. Hal ini menciptakan korelasi yang lemah antara Bitcoin dan saham, yang jarang terjadi dalam sejarah kripto.
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat konteks pasar keuangan yang lebih luas. Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah bergerak seiring dengan saham, terutama S&P 500. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kripto terbesar di dunia ini telah bergerak berlawanan dengan saham. Menurut data, emas telah naik 51% sejak akhir Agustus, sementara S&P 500 telah naik 7%, dan Bitcoin telah jatuh 43%.
Apakah Ini Akhir dari Korelasi Antara Bitcoin dan Saham?
Menurut Santiment, deviasi dramatis dari korelasi antara Bitcoin dan saham tidak akan berlangsung lama. Ini berarti bahwa Bitcoin akan kembali ke pola historisnya, yaitu bergerak seiring dengan saham dalam ekspansi ekonomi. Jika hal ini terjadi, maka ada potensi besar bagi Bitcoin dan altcoin untuk mengejar ketinggalan.
Namun, data saat ini menunjukkan bahwa tekanan bearish masih kuat di pasar Bitcoin. Funding rates di pasar futures masih negatif, dan short-term holder masih menjual dengan kerugian. Oleh karena itu, rebound yang signifikan tidak mungkin terjadi sampai short-term holder mendapatkan keuntungan dan mempertahankannya.
Dalam jangka panjang, kinerja Bitcoin yang lemah ini dapat menjadi kesempatan bagi investor untuk membeli dengan harga yang lebih rendah. Namun, penting untuk diingat bahwa pasar kripto sangat volatil dan dapat berubah dengan cepat. Oleh karena itu, investor harus selalu waspada dan melakukan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan investasi.









