Perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini sedang pada persimpangan jalan. Di satu sisi, ada kemungkinan bahwa AI dapat memperluas potensi manusia, tetapi di sisi lain, ada risiko bahwa AI dapat menggantikan peran manusia dan menyebabkan kerugian besar. Untuk menghadapi tantangan ini, sebuah koalisi bipartisan dari pemikir telah menyusun Deklarasi Pro-Human, yang menawarkan kerangka untuk pengembangan AI yang bertanggung jawab.
Deklarasi ini menekankan pentingnya menjaga manusia sebagai pengambil keputusan, menghindari konsentrasi kekuasaan, melindungi pengalaman manusia, mempertahankan kebebasan individu, dan memastikan perusahaan AI dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Selain itu, deklarasi ini juga mengusulkan larangan pada pengembangan superinteligensi sampai ada kesepakatan ilmiah bahwa hal itu dapat dilakukan dengan aman dan demokratis.
Pengujian Wajib Sebelum Peluncuran
Salah satu poin penting dalam deklarasi ini adalah pengujian wajib sebelum peluncuran produk AI, terutama untuk produk yang ditujukan untuk pengguna muda. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk AI tidak menyebabkan kerugian pada anak-anak, seperti peningkatan ide bunuh diri, eksaserbasi kondisi kesehatan mental, dan manipulasi emosional.
Menurut Max Tegmark, seorang fisikawan dan peneliti AI dari MIT, pengujian wajib ini dapat menjadi titik awal untuk memastikan bahwa AI dikembangkan dengan aman dan bertanggung jawab. "Jika kita memiliki hukum yang melarang perilaku berbahaya bagi anak-anak, maka kita juga harus memiliki hukum yang melarang AI melakukan hal yang sama," katanya.
Deklarasi Pro-Human telah ditandatangani oleh ratusan ahli, mantan pejabat, dan tokoh masyarakat, termasuk Steve Bannon dan Susan Rice. Ini menunjukkan bahwa ada kesepakatan luas bahwa pengembangan AI harus dilakukan dengan bertanggung jawab dan mempertimbangkan kepentingan manusia.









